Pemasaran & Tips Membuat Iklan

Pemasaran & Tips Membuat Iklan
Oleh : Jaharuddin*

Zaman terus bergulir, berbisnispun semakin mudah, tanpa memproduksi barang maupun jasa, bisa berbisnis dengan mudah dan murah, kita dimanjakan dengan internet.

Nah, sebagai kalangan terdidik, aktiflah sebagai praktisi bisnis, tambahkan pengetahuan dalam berbisnis.

Aspek penting dalam berbisnis adalah bagaimana pebisnis memahami dan mengerti betul kebutuhan dan keinginan konsumen , inilah substansi pemasaran.

Makanya diperlukan persiapan matang sebelum louncing produk, jika kebutuhan dan keinginan konsumen sesuai dengan produk/jasa yang ditawarkan maka promosi berlebihan tak perlu dilakukan, karena produk/jasa menjadi solusi kehidupan.

Lihatlah youtube, instagram, whatsapp …kalaupun ada iklan minim sekali, mengapa demikian? Karena menjadi solusi kebutuhan dan keinginan banyak orang, maka create lah produk/jasa yang menjadi solusi kehidupan, produsennya tak perlu promosi berlebihan otomatis dicari konsumen.

Sebelum pebisnis louncing produk maupun jasa, fahami benar kebutuhan dan keinginan konsumen yang disasar. Maka dari awal tentukan dengan persis siapa konsumen yang ditarget, bagaimana budayanya, bahasa kerennya perilaku konsumen.

Didasarkan pemahaman yang baik terhadap konsumen yang ditarget inilah, akhirnya pebisnis membuat berbagai program pemasaran, termasuk membenahi produk, price, promotion dan place produk/jasa.

Tips membuat iklan
Memang tidak mudah membuat produk/jasa yang dibutuhkan dan diinginkan orang secara masif. Nyantai ajašŸ™‚, anda yang baru belajar, mulailah dari yang bisa dikerjakan, termasuk re seller, maka dibutuhkan pengetahuan membuat iklan.

Berikut tips dalam membuat iklan yang baik, yang disingkat USP, berikut ini:

1. Ultimate Advantage.
Ketika membuat iklan pastikan pebisnis menonjolkan keunggulan produknya, yang berbeda dengan pesaing.
Ini mengerakkan pebisnis untuk membuat produk yang inovatif. Dan tonjolkan inovatifnya.
Misal: Memproduksi mie instant yg sehat, jasa pencarian jurnal penelitian untuk referensi penelitian, dll.

2. Sensational Offer
Setiap hari kita melihat iklan, kalaulah iklan kita tidak menarik, maka tidak dibaca calon konsumen. Untuk itu pastikan ada penawaran spesial untuk konsumen. Misal pertama dimuka bumi šŸ™‚ (agak lebay yašŸ˜), banyak kata lain seperti: Hanya sampai tgl …, dll

3. Powerfull Promise
Ini memberikan jaminan kepada konsumen yang ragu, agar yakin bahwa produk/jasa tersebut adalah tepat dan bermanfaat tinggi untuknya.
Caranya ketika anda membuat iklan identifikasi kemungkinan keraguan konsumen dalam take action membeli produk/jasa anda, maka tawarkan solusi yg tepat. Misal: jika bisnis anda adalah bimbingan belajar, untuk konsumen yang ragu tawarkan trial class, artinya uji coba dulu secara gratis, jika cocok lanjutkan. dll.

Dan pastikan ada nomor kontak anda yg mudah dihubungi di iklan andašŸ™‚.
Semoga bermanfaat.

Pd Pinang, 140118.
*Ketua Pusat Inkubator Bisnis & Kewirausahaan (PIBK) UMJ

Anjuran Pengajian di Bank Konvensional

Anjuran Pengajian di Bank Konvensional
Oleh: Jaharuddin*

Beredar surat dari kantor wilayah bank BUMN Konvensional, yang salah satu pointnya adalah karena semakin banyaknya bankir yang mengundurkan diri dari bank konvensional karena pemahaman bekerja di bank adalah haram. Maka dianjurkan masing-masing cabang untuk melakukan pembinaan kerohanian dengan melakukan pengajian-pengajian dengan penceramah yang sesuai dengan harapan kantor wilayah, bahkan kantor wilayah menawarkan bantuan jika cabang mengalami kesulitan penceramah.

Menarik surat ini, karena seolah-olah pemahaman bunga bank itu riba dan haram, serta bekerja di bank itu adalah haram, pemahaman yang masih dipertanyakan?

Nah, langkah preventif adalah dengan melakukan kajian, dengan tema dan pembicara yang ditentukan. Seolah-olah, cara berfikir islam mau diambil yang enak dan cocok saja, yang ngak cocok jangan dulu šŸ˜­.

Muncul pertanyaan baru, adakah aturan islam yg tidak cocok dan tidak relevan dengan kehidupan kita?.

Jawaban kita mungkin beragam, karena pemahaman keislaman berbeda-beda, yuk selalu belajar, paling tidak berbaik sangka pada syariat Allah.

Kembali ke perbankan. Dengan kata lain, yang sudah tobat tidak bekerja di bank konvensional mempunyai pemahaman yang salah, yang bertahan malah yang benaršŸ˜¢

Memang kita tidak bisa menghakimi orang hanya dengan selebaran. Kita berbaik sangka sajalah…pelajaran yang bisa diambil adalah..berusahalah berinteraksi dengan islam secara kaffah, tidak pilih-pilih.

Solusi yang ditawarkan amat baik dengan pengajian, dan biasanya malah semakin banyak yang tersadar bahwa riba itu haram, dan semakin banyak yg meninggalkan bank konvensional. Bisa jadi suatu hari, bank konvensional = non islam, dengan berbagai implikasinya. Suatu hari jika ada yg memperkenalkan diri bekerja di bank konvensional, persepsi orang dia non muslim. Terlihat dakwah bidang ekonomi semakin merasuk dalam sendi kehidupan masyarakat.

Tantangan Bank Syariah

Realitas ini, memberi tantangan kepada bank syariah untuk selalu berbenah, otokritik dan mencari kritikan dari eksternal, untuk terus memperbaiki diri. Lebih baik dari bank konvensional dalam berbagai hal.

Salah satunya kemudahan para bankir yang ingin hijrah ke syariah, dan terus melakukan pembinaan SDM sehingga merubah filosofi dan pemikiran serta praktek kerja dari konvensional ke syariah. Diduga ini masih menjadi masalah, karena tidak banyak bankir dan keluarganya siap berpindah ke profesi lain, banyak yang menginginkan tetap didunia perbankan dengan fasilitas minimal sama.

Saat yang sama siapkan SDM yang belum pernah menjadi praktisi bank konvensional.

Termasuk standar-standar keberhasilanya bank syariah tidak disama ratakan dengan bank konvensional, karena faktanya syariah dan konvensional itu beda.

Lakukan riset yang mendalam untuk menemukan indikator sukses dan paling tepat bank syariah, salah satunya maslahah yang didapatkan masyarakat, bisa diukur dan dikomunikasikam kepada masyarakat.

Pemerintah, diharapkan serius membantu kebutuhan bank syariah, agar manfaat dan berkah dirasakan bangsa ini semakin terasa. Aamiin.

*Dosen Program Studi Ekonomi Islam FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Untung?

Untung?
Oleh : Jaharuddin*

Dalam salah satu grup bisnis ada pertanyaan begini.

“Bagaimana menurut Kita, kalau kita beli produk di China dengan alasan lebih murah dan kita jual di Indonesia (import dari China) supaya untungnya lebih besar šŸ™”

Pertanyaan menarik yang penting dibahas. Bisnis tidak selamanya hanya perkara untung rugi. Pebisnis yang handal dan bertahan jangka panjang, adalah pebisnis yang mempunyai mimpi besar, melampaui uang.

Bagi pebisnis besar uang hanyalah alat untuk mencapai mimpi (visi) yang diinginkan.

Misal ada pebisnis tangguh yang mempunyai mimpi negaranya setara dengan bangsa manapun, ada yang mempunyai mimpi membuktikan didalam setiap genetik muslim ada jiwa pebisnis tangguh yang pernah dicontohkan Rasullullah SAW dan sahabat.

Dengan demikian pebisnis seperti ini, benar-benar menyusun langkah terencana menuju mimpi (visinya).

Nah, kembali ke pertanyaan di atas, bagaimana mensikapi kondisi nyata tersebut.

Idealnya barang/jasa yang kita jual adalah mengutamakan hasil karya anak bangsa, dan sah sah saja mendahulukan Islam, apalagi jika produk tersebut tersedia banyak potensinya didalam negeri. Karena dampak ekonomi dan sosialnya dinikmati didalam negeri, dan idealnya pemerintah berpihak kepada produsen dalam negeri.

Dan, tentunya berbeda dengan produk/jasa yg memang dalam negeri belum mampu memproduksi.

Sepertinya kita semua perlu waspada, jika perdagangan omsetnya tinggi dan terus naik, namun saat yg sama industri dalam negeri gulung tikar, indikasi import yg tinggi.

Nah dampaknya adalah semakin sedikit yg bekerja, semakin sedikit yg mempunyai penghasilan. Dan jika pekerj tidak cepat shifting menjadi pebisnis maka kesejahteraan kelompok tertentu menurun, dan daya beli akan turun. Jadi mempunyai dampak negatif didalam negeri. Karenanya penting untuk berpihak pada produsen dalam negeri.

Lantas, nyatanya didalam negeri mahal, dan berbagai kendala lainnya..maka langkahnya adalah tetap import, saat yg sama difikirkan upaya agar bisa diproduksi didalam negeri, terutama yg pasarnya amat besar di Indonesia.

Lantas …yg ngak peduli sama sekali, baginya uang, uang dan uang…menurut saya tipikal hanya pedagang biasašŸ™‚.

Ruang kantor PIBK UMJ, 180118
*Ketua Pusat Inkubator Bisnis & Kewirausahaan (PIBK) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Minimart Muslim

Minimart Muslim

Oleh: Jaharuddin*

Dalam salah satu grup WhatsApp seorang anggota menawarkan investasi mendirikan salah satuĀ minimart muslimĀ dengan konsep urunanĀ modal. Dibutuhkan modal sekitar Rp750 juta, respon salah satu anggota grup sebagai berikut:

ā€œHehehe jujur saya ga tertarik. Kenapa? Krn itu sulit melawan yang besar. Mau butuh modal berapa? 7 eleven aja keok. Kenapa? 1. Ketika sdh besar biasanya pemain-pemainnya tutup keran distribusi. Contoh. Tadinya dapat jatah aqua 8 dus giliran laku kerannya dikecilkan bukan justru ditambah. Jadi 4 atau 3 dus. Ini real. Bagi yg awam ga masuk akal. 2. Alfa dan indomaret behind the scenenya itu orangnya sama. Pemiliknya ya itu)itu saja. Jadi mereka bukan saingan dalam arti tertentu. Hulu hilir ya dari mereka-mereka juga. Kalau suruh invest sayang duit segitu malah justru menguap. Ngabis-ngabisin duit. Ga gitu cara melawannya,ā€

Yang lain menimpali begini:

ā€œSenada dengan pendapat di atas, dengan mengumpulkan uang masyarakat dari banyak orang seperti shadaqo mart, saya merasa jika iniĀ gagalĀ bisa jadi masalah tersendiriā€.

ā€œMengharapkan masyarakat membeli karena ikutan ā€œemosionalā€ bisa jadi belum tentu bertahan lama (ini perlu diteliti lebih lanjut)ā€.

Dan direspon oleh yang menawarkan begini:

ā€œDari awal kan mereka sudah dijelaskan. Ketika akan membangun ekonomiĀ IslamĀ yang masih trial and error mereka harus siap gagal dan bisa menerima. Jadi kami tidak bicara manis. Tapi bicara perjuangannyaā€.

Direspon lagi begini :

ā€œSip, Itulah kenapa harus siap. Jangan menembak burung dengan meriam peluru besar cuma 1 pula itupun sudah all out. Alangkah baiknya tembak dengan senapan berpeluru banyak dengan bidikan jitu. Efektif dan efisienā€

ā€”ā€”ā€”ā€”ā€”ā€“
Saya jadi teringat diskusi beberapa pekan yang lalu, di lingkungan tempat tinggal saya sedang dibangun minimartĀ muslim, dengan cara urunan modal masyarakat, semakin banyak masyarakat ikut semakin baik?, diasumsikan semakin banyak konsumen yang akan beli di minimart muslim tersebut. Dibutuhkan sekitar Rp.750 juta untuk modal awal.

Langkah ini merupakan pengembangan ekonomi umat, keberlanjutan gairah umat memperbaiki ekonomi paska aksi 212.

Pada dasarnya umat mendukung dengan antusias hadirnya berbagai bentuk implementasi ekonomi umat, di tengah penguasaan ekonomi oleh pihak lain. Nyatanya ekonomi umat Islam pelakunya sebagian besar bukan umat Islam. Padahal konsumennya adalah umat Islam.

Berkumpulnya 7 juta muslim pada saat 212 memberi energi kepada umat islam bahwa bisa berpadu dalam barisan.

Saat politik dan pemilik modal non muslim negeri ini berpadu dalam kepentingan, umat semakin menyadari realitas ekonomi dikuasai non muslim, menjadi ancaman serius bukan hanya ekonomi, juga akidah umat.

Suasana inilah yang diduga juga berkontribusi dalam menangnya, calon umat Islam di DKI.

Suasana ini pulalah yang melahirkan berbagai ide ekonomi yang sekarang digulirkan dengan berbagai pola dan bentuk, salah satunya Minimarket.

Semangat ini bisa jadi energi bagi umat untuk berkontribusi.

Nah, potensi ini perlu dirawat dan direncanakan dengan baik termasuk mitigasi risiko, karena ketika usaha umat berhasil akan menjadi ceritaĀ sukses, jika sebaliknya bisa jadi trauma yang berkepanjangan seolah-olah umat Islam tidak bisa berserikat dalam ekonomi.

Untuk itu para pengelola ekonomi umat benar-benar merencanakan dengan matang, melibatkan para ahli dan profesional .

BuatlahĀ bisnisĀ model yang baik, sehingga kemungkinan gagal bisa diminimalisir. Memanfaatkan momentum umat yang sedang bergairah adalah sesuatu yang baik, namun belum tentu bertahan dengan lama.

Faktanya umat Islam selalu membanding bandingkan dan kritis terhadap pilihan ekonomi, dan akhirnya bisa jadi umat tetap saja membeli ke minimart yang dimiliki non muslim.

BeberapaĀ faktaĀ yang perlu dianalisis mendalam adalah belum tumbuhnya marketshare bank syariah yg masih di sekitar 5%, padahal umat muslim di Indonesia sekitar 80%, bukankah harusnya market share bank syariah itu 80%, jika semua umat Islam loyal dengan bank syariah? Banyak alasan yang bisa kita diskusikan.

Cek saja dompet kita, masihkah ada produk bank konvensional?

Juga masih ingat, boikot umat terhadap sari roti? Diawal boikot perusahaan tersebut sangat terganggu, seiring waktu tetap berjalan sampai hari ini.

Nah, berhati-hatilah jika memanfaatkan momentum emosional.

Alternatif Solusi

1. Umat mesti mendukung upaya perbaikan ekonomi umat, dan pastikan pengelola merencanakan dengan sangat baik, libatkan ahli dan profesional.

2. Lakukan penelitian agar Minimart muslim bisa berkelanjutan panjang dan menguntungkan.

3. Dalam era revolusi industri ke 4 ditandai dengan perubahan yang cepat, seringkali persaingan tidak dari usaha sejenis. Ini bisa jadi inspirasi digitalisasi ekonomi dalam bentuk menghadirkan MallĀ OnlineĀ umat Islam, yanf bisa jadi dengan modal yang lebih kecil dan efektif, jadi belum tentu menandingi indomaret dan alfamart, dengan cara membuat usaha sejenis.

4. Mulai gerakan cash wakaf, dana wakaf dikumpulkan, dikelola oleh nadzhir profesional, diawasi oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI), setelah cukup dananya, beli minimart yang sekarang eksis dengan dana wakaf dan dikelola profesional. ini memang butuh waktu, tapi harus dimulai.

*) Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Muhammadiyah Jakarta(UMJ) /Ketua Pusat Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan (PIBK) Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Source:
Minimart Muslim – http://suarajakarta.co/opini/minimart-muslim/

Pict by Google

Panduan Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia

Sudah punya usaha?
Butuh tambahan modal Rp. 10 hingga 40 juta dan pembinaan lebih lanjut?

Ikuti Kompetisi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI).

Hanya untuk 25 proposal terbaik.

Kirimkan proposal usahamu ke:
Pusat Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan (PIBK) UMJ.
di Lt. 1 Bisnis Center UMJ.
c.p Putri. no WA 081310743469
www.pibk.umj.ac.id
email: pibk@umj.ac.id
ig: @pibk_umj

Paling Lambat 31 Maret 2018.

Kriteria Peserta
Kriteria dan persyaratan pengusul dijelaskan sebagai berikut:
a. Peserta program KBMI adalah kelompok mahasiswa yang sedang aktif dan terdaftarĀ mengikuti program pendidikan S-1 atau Diploma;
b. Peserta telah memiliki bisnis yang akan dikembangkan dibuktikan dengan profil usaha;
c. Pengusul adalah kelompok mahasiswa berjumlah 3ā€“5 orang;
d. Nama-nama pengusul (ketua dan anggota) harus ditulis lengkap dan tidak bolehĀ disingkat;
e. Mahasiswa pengusul dapat berasal dari berbagai program studi yang berbeda atau dariĀ satu program studi yang sama, namun masih dalam satu Perguruan Tinggi yang samaĀ dengan keahlian yang saling mendukung.

Ketentuan proposal KBMI sebagai berikut:
1. Perguruan Tinggi maksimal mengirimkan 25 proposal terbaik hasil seleksi internal;
2. Proposal yang lolos seleksi internal dengan surat pengantar dikirimkan oleh PimpinanĀ Perguruan Tinggi bidang kemahasiswaan ke email kk.ditmawa@ristekdikti.go.id
,Ā dengan melampirkan Berita acara hasil seleksi internal Perguruan Tinggi (LampiranĀ 6).
3. Mahasiswa hanya diperbolehkan mengajukan satu proposal ;
4. Seorang Pendamping hanya diperbolehkan membimbing maksimal 5 proposal ;
5. Proposal maksimal 10 halaman dihitung mulai Pendahuluan sampai dengan JadwalĀ Kegiatan (tidak termasuk Halaman Kulit Muka, Halaman Pengesahan, Daftar Isi,Ā Ringkasan, Daftar Gambar, Biodata pengusul dan Dosen Pendamping yangĀ ditandatangani, Surat Pernyataan Ketua);
6. Proposal mengacu kepada sistematika penulisan Lampiran 1;
7. Keseluruhan Proposal disimpan dalam satu file format PDF dengan ukuran fileĀ maksimum 5 MB dan diberi Nama Ketua Pengusul_Nama Perguruan Tinggi_programĀ rencana bisnis mahasiswa.pdf, kemudian diunggah ke sim-pkmi.ristekdikti.go.id.

Hardcopy dikumpulkan di Perguruan Tinggi masing-masing

Panduan lengkap dan kerangka proposal, klik dibawah inišŸ‘‡šŸ»šŸ‘‡šŸ»šŸ‘‡šŸ»

 

Pusat Inkubator Bisnis & Kewirausahaan (PIBK) UMJ

 

Pusat Inkubator Bisnis & Kewirausahaan (PIBK) UMJ
Oleh : Jaharuddin*

Saat ini UMJ mempunyai lembaga yang menumbuh kembangkan bisnis dan kewirausahaan. Ini menjadi momentum berharga bagi tumbuh suburnya pengusaha muda muslim. Berbagai program akan ditindak lanjuti dengan inkubator bisnis. Dalam perpres no 27 tahun 2013 inkubator bisnis didefinisikan sebagai suatu lembaga intermediasi yang melakukan proses inkubasi terhadap peserta inkubasi (tenant). Inkubasi adalah suatu proses pembinaan, pendampingan dan pengembangan yang diberikan oleh inkubator wirausaha kepada tenant.

Inkubator diduga merupakan cara tepat dalam melahirkan pengusaha baru. Benih-benih wirausaha dibina, didampingi, dijaga, dikembangkan, sampai menjadi pengusaha muda yg tangguh.

Setelah proses inkubasi, biasanya 0 – 3 tahun, pengusaha muda muslim diterjunkan ke masyarakat dan diharapkan menjadi tangguh dan mandiri.

Apa yg dilakukan oleh inkubator bisnis?

Ada 7S karakteristik yg sekaligus fungsi inkubator bisnis.
1. Space
Inkubator menyediakan tempat untuk mengembangkan usaha pada tahap awal.
2. Shared
Inkubator menyediakan fasilitas kantor yg bisa digunakan secara bersama.
3. Services
Meliputi konsultasi manajemen dan masalah pasar, aspek keuangan dan hukum, informasi perdagangan dan teknologi.
4. Support
Inkubator membantu akses riset, jaringan profesional, teknologi, dan investasi.
5. Skill Development
Dapat dilakukan melalui latihan menyiapkan rencana bisnis, manajemen dan kemampuan lainnya.
6. Seed Capital
Dapat dilakukan melalui dana bergulir internal atau dengan membantu akses usaha kecil pada sumber-sumber pendanaan atau lembaga keuangan yang ada.
7. Sinergy
Kerjasama tenant atau persaingan antar tenant dan jejaring dengan pihak universitas, lembaga riset, usaha swasta, profesional dan masyarakat internasional.

Saat ini ada puluhan mahasiswa yg akan dibina oleh PIBK UMJ. Salah satu Support bagi tenant PIBK adalah memberi kesempatan kepada tenant untuk mengembangkan usahanya dari kampus UMJ.

Beli dari kalangan sendiri
Langkah awal yang butuh support semua pihak adalah keberpihakan kepada pengusaha muda mahasiswa kita sendiri untuk mendapatkan kesempatan menjadi vendor di berbagai kegiatan UMJ baik di tingkat Universitas maupun Fakultas bahkan program studi.

Berilah kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan ide kreatif dan inovatif nya di dalam kampus.

Misalnya bagi mahasiswa yang punya usaha bergerak dibidang kuliner, berilah kesempatan untuk mengisi counter kantin dan menjadi vendor kegiatan-kegiatan internal UMJ. Sebutlah rapat, workshop, seminar yang membutuhkan snack, makan siang.

Memang mungkin jauh dari sempurna, dan inilah pelajaran berharga bagi tenant, untuk kita bina, dampingi, dikembangkan, kelak mereka menjadi pengusaha handal dibidang masing-masing karena pembinaan, pendampingan dan pengembangan dengan baik.

Dukungan semua pihak menentukan berjalannya program ini, peluang-peluang di internal hendaknya berpihak kepada tenant, dengan evaluasi yang wajar.

Semoga semakin banyak mahasiswa kita yang tumbuh jadi pengusaha muda muslim tangguh, dan UMJ bukan hanya siap melahirkan mahasiswa siap kerja, juga melahirkan pengusaha muda muslim tangguh. Aamiin.

*Ketua PIBK UMJ